Berlatih Kemandirian Investasi Masa Depan

Denpasar, Kamis 21/12/2017


Menjadi ibu dari lima anak sekaligus merangkap peran ayah yang sedang bertugas di lain pulau selama hampir lima tahun tanpa seorang asisten rumah tangga menuntut saya dan anak-anak tumbuh sebagai manusia yang mandiri. Syukurnya kemajuan media komunikasi membuat kami tak merasa jauh dan lepas. Alhamdulillah pula setiap tiga bulan sekali kami bisa berkumpul untuk menunaikan hak dan kewajiban masing-masing. 

Menyadari bahwa latihan kemandirian bermula dari teladan orang tua, maka saya berusaha memaknai arti kemandirian bagi diri sendiri. Ada lima anak yang akan mengkopi bahkan mungkin mengikuti jejak kami sebagai orang tua. Dengan demikian, tak boleh main-main atau coba-coba melakukan hal yang jauh dari sikap mandiri. Rasanya akan sulit mengajak mereka untuk berlatih kemandirian bila kami tidak bisa memberi contoh kemandirian yang baik. Tentu sebaik-baik role model adalah "Rasulullah SAW". 

Sebagai pijakan awal yang sangat mendasar adalah 'niat'. Niat melakukan setiap aktivitas adalah beribadah kepada Allah dan yakin bahwa Allah pasti akan menjadi penolong. Inilah yang menjadi kekuatan besar bagi kami.
Selanjutnya adalah memahami peran penciptaan diri dan tanggung jawab terhadap peran tersebut. Hal ini membuat rasa percaya diri kami semakin besar. Anak-anak mulai belajar menikmati mengapa mereka dihadirkan dalam keluarga kecil kami dan berlatih kemandirian dengan suka cita.

"Tak ada kata sulit, yang ada hanyalah tantangan. Buat saya hidup adalah memilih. Memilih mau menghadapi tantangan atau mundur sebagai pecundang." Rasa ini pun kami tularkan pada lima anak kami. Bukanlah hal yang mudah. Terkadang mereka merasa lelah ataupun lemah. Merasa tak yakin mampu melakukan sesuatu. Di sinilah peran kami sebagai orang tua yang selalu siap menggenggam tangannya dan meyakinkan bahwa tak ada tantangan yang tak dapat dilalui. Menyalurkan energi membangun rasa percaya diri.


Tiga pilar yang harus dimiliki oleh orang tua dalam melatih kemandirian pada anak adalah teladan, motivasi dan konsistensi. Untuk melatih konsistensi, anak-anak berbagi peran setiap bulannya. Sudah rutin dilakukan sehingga tanpa komando mereka akan melakukan rolling bila telah usai masa perannya. Tak pandang laki-laki atau perempuan, semua pernah merasakan peran. Masing-masing anak punya rasa berbinar yang berbeda di setiap peran. 

🎶 Ulwan (10th)
Si kembar sulung ini paling berbinar saat bertugas sebagai manajer kebun. "Umi.. Wan kepingin lebih lama lagi jadi manajer kebun." Begitu komentarnya dan ia pun mulai negosiasi dengan sang adik untuk bisa bertahan beberapa waktu lagi di peran tersebut. 
Ulwan (kaos abu-abu) manajer kebun

🎶 Faiq (10th)
Si kembar bungsu ini paling berbinar saat menjadi manajer teras. Karena senang, ia membersihkan teras dengan sangat bersih. "Umi, coba lihat.. terasnya bersih kan? Uda dek Iq sapu dan pel sampai tangga paling bawah. Lihat juga jemurannya. Uda diangkat dan yang baru selesai dikeringkan Uda dek Iq jemur. La la la la.." Demikian ia bernyanyi sambil menunjukkan pada saudara yang lain bahwa pekerjaannya sudah oke. Yang lain pun mulai membalas dengan menunjukkan hasil kerjanya. Yah begitulah Faiq.. ia senang membuat suasana menjadi ramai. Bila tak ada Faiq maka rumah terasa sepi. Hihi.. karena tak ada yang menangis dan tak ada yang merasa dijahili.
Faiq manajer teras

🎶 Indy (8th)
Satu satunya putri kecil kami ini paling berbinar saat menjabat sebagai manajer adik. Tugas manajer adik adalah menjaga adik (Nayief dan Yazed) dengan menemaninya bermain, menemani makan, mandi dan mengajaknya ikut serta melakukan aktivitas tertentu. Misal: 
🐝Membantu manajer kebun untuk memungut sampah, nyiram kebun. 
🐝Membantu manajer teras untuk mengangkat jemuran atau menjemur pakaian
🐝Membantu manajer dapur untuk merapikan bumbu, buang sampah dan lainnya. 
Nah, kalau kakak Indy yang sedang menjabat peran ini, kedua adiknya sangat berbinar. Indy pun sangat senang dan betah berlama-lama bersama adik.
Indy manajer adik

🎶 Nayief (5th)
Nayief masih berperan sebagai asisten Abang dan kakak. Peran ini saja sudah sangat membuatnya berbinar. 
Nayief asisten manajer kebun

🎶 Yazed (2,5 th)
Yazed juga suka membantu Abang dan Kakak jika tidak asik bermain
Yazed asisten manajer dapur


Untuk latihan kemandirian, anak-anak yang usianya lebih besar sangat membantu kami dalam memberi contoh dan membimbing adik-adiknya.
Terkadang bila aktivitas saya di luar rumah sangat padat, maka kelima anak bisa diandalkan. Mereka, khususnya Ulwan, Faiq dan Indy sudah bisa mengurus diri sendiri dan melakukan beberapa keterampilan dasar kemandirian. Seperti:
🐇Menyiapkan makanan (beli, pasang tabung gas, beli bahan masakan, masak)
🐇Perjalanan mandiri jarak dekat
🐇Memakai teknologi (hp, internet, komputer)
🐇Transaksi keuangan (belanja, menabung di BMT, bantu di toko)
🐇Berkarya (membuat mainan adik dari barang bekas, bikin sesuatu dengan rakitan alat listrik sederhana)
🐇Mengurus adik
Membuat makanan sendiri

Investasi kambing


Merakit mainan


Alhamdulillah kini kelima anak kami tumbuh dengan peningkatan latihan kemandirian secara bertahap dan konsisten. Awalnya memang banyak orang menganggap saya tega terhadap anak. Anggapan ini terutama datang dari keluarga sendiri. Disusul para tetangga yang memang sangat memanjakan anaknya hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan berkeluarga. Namun berjalannya waktu diikuti meningkatnya kemandirian anak membuat sebagian orang melihat buah dari latihan kemandirian yang telah kami lakukan. Kami pun sangat bersyukur karena saya bisa belajar di IIP bersama bunda-bunda hebat dengan ilmu pengasuhan yang luar biasa. Alhamdulillah.. Terimakasih semuanya.

Sumber ilmu:
Materi Kuliah Bunda Sayang Level Melatih Kemandirian Anak 20-02-2017

#AhaPointHikmah
#MelatihKemandirianAnak
#BunSayKordiBatch3